Tampilkan postingan dengan label Paket Adat Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paket Adat Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 17, 2008

DALIHAN NA TOLU, TOLU SAHUNDULAN

(The Philosophy of Life)

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (Bahasa Batak Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (Bahasa Batak Simalungun).
Dalihan dapat diterjemahkan sebagai "tungku" dan "sahundulan" sebagai "posisi duduk". Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:

1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di atas", yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.

2. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya "sejajar", yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

3. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di bawah", yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.

Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU.

Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat.

Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.
(kutipan)

Sabtu, September 13, 2008

ARTI ULOS BATAK

Secara harafiah, ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah Dari terpaan udara dingin.
Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan:
(1) matahari
(2) api
(3) ulos.

Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya.

Dalam pengertian adat Batak "mangulosi" (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru.

Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana. Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang "non Batak" bisa penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas-tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.

Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).
(kutipan)

Kamis, September 04, 2008

BATU GANTUNG & ASAL USUL NAMA KOTA PARAPAT

Seorang gadis yang hendak dijodohkan orang tuanya dengan anak dari saudara perempuan ayahnya padahal gadis ini udah mempunyai kekasih, malahan mereka udah bersumpah akan menikah. Gadis ini sangat terjepit. Dia bagaikan memakan buah simalakama. Dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu.

Karena dia tidak sanggup mengatasi kesulitan besar yang menimpa dirinya, gadis itu akhirnya putus asa. Dengan bercucuran air mata ia berjalan perlahan-lahan menuju pinggir Danau Toba yang berjurang sangat dalam. Dia bermaksud hendak melompat ke jurang yang amat dalam itu. Beberapa saat sebelum mencapai pinggir Danau Toba, tiba-tiba dia terperosok ke dalam lubang besar. Seluruh tubuhnya masuk ke dalam lubang itu. Makin lama dia makin jauh tenggelam. Di sekelilingnya hanya terdapat batu cadas hitam. Karena pikirannya nanar, si gadis melihat batu-batu itu seakan-akan sedang bergerak hendak menghimpit dirinya. Melihat keadaan itu ia pun berkata :
"Parapat...Parapat batu...parapat." (Artinya : "merapat…merapatlah batu…merapatlah.").
Kata-kata itu diucapkan terus menerus dengan harapan agar batu cadas disekelilingnya merapat sehingga tubuhnya terjepit dan jiwanya melayang. Ada dua orang petani yang mendengar sayup-sayup suara yang mengatakan : "Parapat…Parapat batu…parapat." kedua petani tadi tidak dapat menolong gadis itu. Dari teriakan gadis inilah asal usul nama kota PARAPAT.

Cerita ini cukup bagus karena isinya memberi peringatan kepada kita bahwa tindakan yang dilakukan karena putus asa akan menimbulkan akibat yang tak baik.

Dikutip dari : CERITA RAKYAT DARI SUMATERA UTARA (oleh Z. PANGADUAN LUBIS)

JERITAN HATI dari kami yang TIDAK PUNYA ITO KANDUNG!!

makaseh modi yg lolosin tanggapan ini.

wahhh...sebelum nimbrung untuk masalah ini, enggak salah deh kalo tanya dan minta pendapat sama natua-tua kita euy...

yg terhormat 'natua-natua' dan seluruh anggota yg ada di milis ini semuanya...
boleh minta pencerahan serta obor-nya kah...??
(jangan pelit-pelit dunk bagi2 pendapat...hayaaa...maaf tu hamu sude na pinarsangapan)

status anak tunggal bisa jadi masalah...
(hihihii...kesian amat lu anak tunggal? ups!!?? jahat banget lu, di!! maaf dan tebarkan senyumnya)
Makaseh sis Juanita br SILALAHI atas sharing ini.

saya pribadi bukan anak tunggal tetapi saya mempunyai adik perempuan juga so kami hanya berdua bersaudara kandung, perempuan semua pulak, bah!
kebayang dunk untuk Orang Batak yang HANYA punya anak boru doank TANPA anak!!
11 12-lahhhh masalah anak tunggal dengan mereka yg TIDAK punya ito...beda tipis kata orang untuk masalah TULANG ini...kekekekekkkkk...k

saya juga mengalami hal yang sama yang dirasakan dalam konteks sharing ini...yaa ituuu…tu.. 'kelak tidak akan punya seorang tulang kandung'.
dan saya sangat sangat yakin kalau masalah ini HANYA dan SANGAT dapat dirasakan bagi mereka yang mengalaminya yaaaa seperti anak tunggal perempuan, seperti saya dua saudara kandung yang notabene enggak punya ITO KANDU-aNG!!

ada selentingan seperti itu sangat membuat hati saya tersentil untuk ambek deh..wahhh rasanya gimanaaaa gicthu...
secara pribadi saya tidak mempermasalahkan masalah tersebut mungkin saat itu saya tidak mau ambil pusing dengan masalah tidak punya ito tersebut...
yg mau nikah emang sapa sehhh...??
mang gue peduli dengan itu?
mang dia mau nikah sama ito gue, apaaa?
arggghhh...
itu yang terlintas dalam fikiran saya duluuuuu dan sekarang…hehehehe…

tapiiiiiiiiiiiii...selentingan seperti itu bagi bapak-mama saya, bagaimana dunk??
heheheh...saya peduli bahkan sangat peduli bouw!!??

dari kecil hingga kami berdua menikah (catat menikah yeee...) saya selalu melihat Mama br MANURUNG hu ituuuu hmmm...selalu kecil hati jika orang berkata, 'oOo, anaknya semua perempuan tho?'
alamakkkkk...mama borMAN hu itu sih so pasti tahan perasaan teruss sebelum beliau mempunyai dua orang cucu lucu, laki-laki semua nehhh...ini fakta yang bicara!
kenapa?
wong beliau kok yang melahirkan kami dan nyatanya? semua anak beliau adalah boru, PEREMPUAN!!
beliau perempuan BATAK, coyyyyyy…
(mam, I love you so much)

balik lagi ke masalah ini..
bermasalahkah status anak tunggal (boru) dalam adat Batak yang nantinya keturunannya TIDAK mempunyai TULANG KANDUNG?
jawab saya adalah YA dalam hal rumpian Orang Batak!!
bukti nyata ada, tidak usah jauh-jauh deh, di saat mulai ada perbincangan pernikahan baik diri saya sendiri maupun adik saya, masalah tersebut mancuak ke permukaan…

semenjak ada selentingan seperti hal sharing ini (biasalah, rumpian ORBA), di saat acara pernikahan mulai dibicarakan, saya beranikan diri bertanya sama bapak-mama, apakah ini memang akan menjadi masalah di kemudian hari, terutama bagi hati mereka berdua...
dengan bijaksana mereka berdua menjawab, kamu punya ito, 'nang' (maksute anak bapak tua ku dari bapak) jadi kalaupun kamu mempunyai anak, anak mu akan punya tulang. jangan kamu merasa minder atawa kecil hati karena kamu TIDAK PUNYA ITO!!
okelah kalau demikian mah, saya lihat ke dua orang tua saya tidak ada masalah, berarti jalan tooruuuusssss…
(lha…katanya orang batak punya struktural adat? dimana nehhh buktinya…apa kata dunia woiiii)
so dengan kata lain baik dari jaman saya, adik saya hingga masalah ini diungkapkan sis Juanita, masih ada kok?
salah enggak?
maka dalam asumsi saya, jaman sebelum saya, jaman setelah sis Juanita keluarkan sharing ini, masalah ini akan terus dikeluarkan ke permukaan…hehehehehe…

Jawab saya adalah TIDAK dalam hal Adat Batak!!
(versi saya tentunya)…kenapa?
buktinya saya beserta adik saya menikah dengan Adat Batak yang lengkap dan lancar.

emang kadang-kadang neh orang yang suka ngerumpi dan isenk yak?…hmmm…
semua hanya bisa ngerumpi, bahas sana-sini, ini sebenarnya tidak apa-apa, kalian begini begitu…huh!!
kami ini juga boru batak euyyy, wanita juga nehhh, punya jeritan hati tauuuuu…
jaman geneeee gitchu lho masih punya pemikiran seperti ini?

kalau pun ini memang terjadi pada sis Juanita…JANGAN kecil hati deh alias go head, sis!
sukses selalu untuk mu


mauliate godang tu hamu sude,

peace & love
~ds
(yg TIDAK punya ITO KANDUNG)
YM = dianasihotang
FS = dianabrsihotang@yahoo.com.sg
Blog = http://dianasihotang.blogspot.com/

~~~~~~~~~
from : ANITA 766hi, silalahi_juanita@xxx

Bermasalahkah status anak tunggal dalam adat Batak ?

Shalom.....
Horas tu sude dongan di milis on.

Aku mau sharing nich dan minta pendapat semua teman....

Kata orang , anak tunggal itu enak banget, karna kasih sayang orang tua seutuhnya buat dia seorang. Tapi kenyataanya ternyata gak bener juga, karena saat menjelang dewasa dan ingin menjalin hubungan serius ( menikah ) , status anak tunggal bisa jadi masalah. Karna ada beberapa orang tua tidak menginginkan menantu seorang anak tunggal dengan alasan bahwa cucunya kelak tidak akan punya seorang tulang kandung..
Saya sempet kaget mendengarnya Apakah itu sangat penting sekali?? padahal bisa sajakan si anak tunggal ini punya abang atau kakak dari bapak tuanya kandung yang nantinya akan jadi tulang buat si cucu, toh sama saja hanya saja bukan langsung dari satu orang tua.

Maka itu saya minta pendapat semua teman dan orang tua di milis ini.
Apakah di jaman sekarang ini, masih di permasalahkan punya pacar / calon menantu seorang anak tunggal khususnya mempunyai menantu perempuan anak tunggal?
dan apa alasannya...

Mauliate godang sebelumnya..

from:
http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/69665
http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul-Chat/message/10785
http://groups.yahoo.com/group/si_raja-oloan/message/1106